Sabtu, 25 Desember 2010

EKI Dance dan Uli Herdinansyah

EKI Dance Company akan mengadakan pertunjukan komedi musikal bertajuk “Jakarta Love Riot” pada 2-4 Juli 2010 di Gedung Kesenian Jakarta. “Jakarta Love Riot” sendiri bercerita tentang sepasang remaja dari status sosial berbeda, yang ingin belajar cinta, tapi terhadang kenyataan bahwa citra lebih penting daripada cinta. Akibatnya, kisah cinta mereka menyulut kerusuhan.

“’Jakarta Love Riot’ ini kan musikal komedi. Di situ ada tari, ada teaternya juga. Ceritanya tentang cinta beda kelas. Ada anak yang dari kalangan elit jatuh cinta sama anak tukang soto. Lingkungannya enggak setuju, keluarganya enggak setuju,” tutur Aiko Senosoenoto, Eksekutif Produser dan Ketua Tim Penulis Skenario saat ditemui okezone di Cilandak Town Square, Kamis (10/6/2010) malam.

Dikisahkan, Nala berasal dari keluarga kaya. Bergaul dengan teman-teman dari kalangan elit, Nala harus mematuhi ‘aturan’ bahwa imej adalah segala-galanya. Ketika mengenal Toto—anak laki-laki pemilik warung soto yang sederhana dan charming—, Nala pun jatuh cinta. Begitu juga Toto yang tertarik pada Nala karena cantik, tidak sombong dan tetap punya idealisme, meski sudah hidup berkecukupan.

Perbedaan status sosial yang mencolok ini ternyata menimbulkan kecurigaan, kepanikan, dan kekisruhan di keluarga dan komunitas masing-masing. Mereka memiliki berbagai alasan untuk tidak merestui hubungan keduanya.

“Saya rasa yang bikin orang menikmati (‘Jakarta Love Riot’) adalah percintaan itu semuanya enggak mulus-mulus saja. There always drama. Di sini yang bikin gemas adalah mereka remaja yang pacaran lucu-lucuan, tapi tidak disetujui. Ini terjadi di kehidupan urban. Ini cerita yang kita temukan sehari-hari. EKI (Dance Company) mengemas sesuatu pasti selalu ada humor. Humor itu salah satu cara di mana kita bisa menyampaikan pesan ke orang lain dengan baik. Dan mereka selalu mengemasnya dengan gaya yang sangat pop,” komentar Sarah Sechan, salah seorang pemeran "Jakarta Love Riot" ditemui pada kesempatan yang sama.

Selain pemain dari EKI Dance Company, pertunjukan juga didukung oleh Sarah Sechan, Bayu Oktara, Uli Herdinansyah, Arie Dagienk, Ira Duaty, Yayu Unru, Takako Leen, Nala Amrytha, Ari Prajanegara, dan Felicia Chitraningtyas. Mereka akan menari, menyanyi, dan beradu akting yang dikemas dengan musik menarik oleh komposer terkenal Indonesia, Oni Krisnerwinto.

“Biasanya EKI melakukan casting, tapi untuk ‘Jakarta Love Riot’, kita kan diminta mendadak oleh GKJ untuk mengisi penutupan Ulang Tahun Jakarta, makanya kita ambil orang-orang untuk pemeran yang kita sudah tahu kemampuannya,” rinci Aiko.

Penyiar dan presenter nyentrik Arie Dagienk juga turut berperan di dalamnya. Ketika ditanya apa perannya dalam pertunjukan komedi musikal tersebut, pria berambut keriting ini mengungkapkan sembari tertawa.

“Ini untuk pertama kalinya gue nari, dan ternyata ada tariannya. Nari dan nyanyi ini baru pertama kali, dan susah banget. Gue paling belakangan latihannya. Perannya jadi bencong. Gue selalu senang dapat peran-peran yang menantang. Bukan bencong kampung, you know, gay gitu,” katanya.

Lantas, apa yang membuat drama musikal satu ini berbeda?

“Kalau teater orang kadang-kadang masih berpikir, ‘aduh teater ya’, tapi kalau musikal mungkin orang merasa lebih gampang mencerna. Animonya lebih besar. Kalau EKI, yang jelas bobot tari lebih banyak, lebih bagus. kita enggak full nyanyi, tetap ada dialog. Ada bagian yang dinyanyikan, dan ada bagian yang tetap didialogkan, karena kita merasa beberapa hal secara emosional lebih sampai kalau itu diadegankan daripada dinyanyikan,” jelas Aiko.

Nah, bagi Anda pecinta musik, Jakarta Love Riot akan menyuguhkan pertunjukan drama dengan kolaborasi musik mulai tekno, dangdut, dance, sampai rap. Sedangkan bagi penikmat tari, Anda bisa puas menonton pertunjukan tari modern yang diberi sentuhan dangdut. Begitu aktraktif dan dinamis karena melibatkan sebanyak 75 pemain.

Lebih lanjut, Aiko juga memaparkan bahwa kostum pemain akan lebih banyak memakai busana kasual. Penata kostum adalah Samuel Wattimena, yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam dunia fesyen.

“Kalau EKI selalu mengadakan pertunjukkan art for the people, art from the heart. Jadi kadang-kadang masalah keseharian yang kita hadapi, yang kita lihat di masyarakat, itu yang kita angkat. Masalah sederhana, masalah sosial kecil, itu yang kita angkat. Kita terusik, orang mau pacaran kok susah amat. Karena beda kelas? Yang paling penting adalah kita bisa kasih hiburan ke penonton,” tandasnya.

Apakah kisah cinta Nala dan Toto ini berakhir bahagia? Jika tak sabar ingin menonton, Anda bisa mendapatkan ticket box di GKJ, EKI Dance Company, atau website www.rajakarcis.com dengan harga Rp.100.000 dan Rp 75.000. Re-runnya akan berlangsung pada Januari 2011. Informasi lebih lanut dapat melihat facebook EKI Dance Company

Tidak ada komentar:

Posting Komentar